Bagian I
Selama ini banyak orang yang keheranan ketika ada guru bergelar SKM alias Sarjana Kesehatan Masyarakat. Tidak sedikit yang beranggapan skeptis dengan gelar pendidikan yang disandang penulis dikaitkan dengan dunia pendidikan. Oleh karena itu penulis ingin berbagi cerita tentang profesi penulis, baik sebelum, maupun sesudah menjadi guru.
Berikut sedikit cerita atau catatan tentang kehidupan penulis sehingga menjadi seorang guru.
Ø
Pada akhir tahun 1999, penulis pernah magang selama
3 bulan di Rumah Sakit Umum Banyumas, saat itu rumah sakit Banyumas menjadi
rumah sakit percontohan di Provinsi Jawa Tengah. Pembimbing lapangan saat itu bernama Bapak
Putut Karyawan, seorang karyawan RS yang bekerja di bawah naungan Instalasi
Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit (IPSRS) . Di akhir magang saya pernah ditawari
untuk bekerja di Rumah Sakit tersebut asalkan dari Diploma III disarankan untuk
meneruskan ke S1 terlebih dahulu.
Ø
Karena keinginan yang kuat pada diri penulis
untuk bekerja di Rumah Sakit, maka pada tahun 2000 penulis mencoba untuk
melanjutkan ke program S1-nya di Semarang, tepatnya di Universitas Muhammadiyah
Semarang (Unimus) mengambil fakultas Kesehatan Masyarakat Jurusan Kesehatan
Lingkungan dan Kesehatan Kerja. Kebetulan saat itu hanya ada dua universitas di
Semarang yang membuka fakultas Kesehatan Masyarakat, yaitu Universitas
Diponegoro (Undip) dan Unimus.
Ø
Keinginan dan kesempatan saya yang pertama untuk bisa kuliah di Undip
tidak tercapai, dan akhirnya saya diterima di Unimus, meskipun dosennya
sebagian besar juga dari Undip.
Ø
Tahun 2003 saya selesai study di Unimus, dan
mencoba menagih janji yang dulu pernah disampaikan oleh pembimbing saya di RSU
Banyumas, namun ternyata Beliau tidak bisa menepati janjinya.
Ø
Akhirnya tahun 2004 saya mencoba mendaftarkan lamaran
saya di suatu Lembaga Penelitian Tanaman Obat Karyasari di Bekasi, dan
alhamdulillah diterima sebagai peneliiti bersama tim peneliti lain dari dokter,
farmasi, biologi, kimia dan pertanian. Kebetulan saya sebagai tenaga kesehatan
masyarakatnya. Namun di tengah perjalanannya hati nurani saya berontak, karena
pemilik lembaga tersebut adalah seorang Nasrani dan hasil keuntungan dari
lembaga tersebut tidak menutup kemungkinan akan digunakan pada
kepentingan-kepentingan tersebut seperti kristenisasi.
Ø
Ternyata penulis hanya bertahan 1 tahun di LPTO
Karyasari, kemudian penulis mengundurkan diri di lembaga tersebut di akhir
tahun 2004. Namun banyak hal-hal yang bisa penulis ambil hikmah dari itu semua.
Pertama, penulis mendapat kesempatan berkeliling Indonesia khususnya di
Universitas-universitas unggul untuk mengambil hasil-hasil penelitian tanaman
obat mulai dari Universitas Indonesia (UI) baik yang di Depok maupun yang di
Salemba, ITB Bandung, IPB Bogor, Universitas Padjajaran, UMM dan Unibraw
Malang, dll masih banyak yang lainnya selain universitas di Jawa Tengah. Kedua
penulis mendapat kesempatan menjadi tutor pada pelatihan tanaman obat kelas
pengobat herbal dengan siswa dari para pengobat, farmasi, dokter, dll. Ketiga,
penulis mendapat kesempatan menjadi Redaktur sebuah majalah Herba, Keempat
penulis mendapat kesempatan menjadi salah satu pembicara di seminar aktif
tanaman obat tentang pengobatan tekanan darah tinggi dan ginjal dengan
menggunakan tanaman obat di daerah Cilangkap, Jakarta Timur. Dan masih banyak
pengalaman yang lain seperti menjadi guide jalan-jalan di kebun tanaman obat di
daerah Bogor.
Ø
Pada tahun 2005, penulis di terima di Lembaga
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat di Semarang sebagai seorang penyuluh kesehatan
di sekolah-sekolah. Dan akhirnya dari situlah penulis mulai jatuh cinta pada
dunia pendidikan. Namun karena pergerakan yang sangat mobile dari lembaga
tersebut, akhirnya penulis mengundurkan diri bersama teman-teman di daerah
Banyumas dan sekitarnya.
Ø
Pada akhir tahun 2005, penulis bersama
teman-teman mendirikan sebuah yayasan tentang tanaman obat bernama, “Yayasan
Pengembangan Tanaman Obat Herbal Insani Perwira atau biasa disingkat HIPA” dan
ditunjuk penulis sebagai ketua yayasan. Pergerakannya juga sudah lumayan bagus,
mulai dari melobi Dinas Pertanian untuk membuat Lahan Tanaman Obat, PKK
Kabupaten Purbalingga untuk penyuluhan rutin dan pengobatan alternatif, bahkan
sudah sempat mencetak buku panduan tentang tanaman obat. Namun sekali lagi di tengah
perjalanan ada keinginan teman-teman yang ingin bergerak instan dan cepat
mendapatkan keuntungan yang lebih,
akhirnya satu persatu anggota mundur dan mencari profesi yang baru.
Ø
Sementara penulis masih menjalankan yayasan
tersebut bersama sebagian teman yang lainnya, pada tahun 2006 awal, penulis
mencoba mendaftarkan diri kembali di Rumah Sakit PKU Lamongan Jawa Timur. Rumah
Sakit tersebut termasuk salah satu rumah sakit terbesar dan terbaik untuk kelas
PKU di Indonesia. Ada tiga seleksi di Rumah Sakit tersebut, dan alhamdulillah
penulis bisa melalui tahap demi tahap sampai tahap terakhir dan masih tersisa
tiga orang termasuk penulis, bersama teman dari Sragen dan Jombang. Ketika
pengumuman, betapa kagetnya karena tidak ada satupun peserta tes yang diterima,
namun justru titipan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah setempat yang tidak
mengikuti tes sama sekali yang diterima. Kekecewaan penulis akhirnya semakin
menjadi dan ada rasa trauma ketika mendengar setiap ada lowongan pekerjaan di
rumah sakit.
Ø
Akhirnya pada bulan April 2006, penulis mencoba
mendaftarkan diri menjadi seorang pendidik di Madrasah Ibtidaiyah Istiqomah
Sambas Purbalingga dan alhamdulillah diterima mulai TMT berlaku bulan Juli 2006
sampai dengan penulis menulis cerita ini, yaitu tanggal 17 Maret 2015 sudah
kurang lebih 9 tahun penulis mengabdi di MI Istiqomah Sambas Purbalingga. Kebetulan memang di MI Istiqomah Sambas tidak hanya memandang dari basic pendidikan, Asalkan dari S1, IPK minimal 3.00, dan mampu mengajar, maka bisa menjadi guru di MI Istiqomah Sambas Purbalingga.
Ø
Cerita berikutnya bersambung selama penulis
menjadi Guru di MI Istiqomah Sambas Purbalingga. Mulai Penulis menjadi Guru
Kelas 4, guru kelas 3 dan guru kelas 5.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar